Al-Ihya Al-Mawat Bi As-Syirkah :
Strategi
Optimalisasi Program Sustainable Development Goals dengan Skematik Harmonisasi Sulthaniyyah
Waa Ummah(HITS)
Oleh :
Tri Aji Pamungkas[1]
triajipamungkasalazhary@gmail.com
Mahasiswa Sebi University College Of Islamic Economic dan University Student Scheme (USS) IAI – ICAEW
Mahasiswa Sebi University College Of Islamic Economic dan University Student Scheme (USS) IAI – ICAEW
Pertumbuhan ekonomi global mengalami keadaan baik
dibandingkan dengan sebelumnya, namun cenderung moderat. Pertumbuhan masih di
dominasi oleh negara maju dan negaara berkembang menjadi salah satu faktor
pendorong dalam pertumbuhan ekonomi global[2]
dimana tingkat pertumbuhan 2016 3,1 dan proyeksi 2017 dan 2018 akan ada di
titik 3,4 dan 3,6 skala Global.Namun Volume pertumbuhan diambil berdasarkan
pada tren positif perdagangan global[3]sebagai
mana yang tertera di dalam gambar di samping.
Namun dengan kondisi demikian tidak membuat
ketimpangan ekonomi menurun yang di buktikan dengan data rasio gini antar kota
dan daerah masih memiliki perbedaan yang sangat luar biasa.
Apabila kita melihat kepada sejarah terkait
tren ekonomi sebelum adanya krisis 1997/1998 Pertumbuhan ekonomi telah berhasil mengurangi kesenjangan[4], menjelang krisis Kesenjangan mulai melebar [5] dan sampai setelah krisis atau era
reformasi Ketimpangan cenderung meningkat terutama antar kelompok ekonomi dan
antar kota-desa[6].
Gini rasio cenderung stabil pada tahun 1980an. Terjadi peningkatan pada akhir 1990an mengikuti pertumbuhan ekonomi yang cukup
tinggi
. Lalu, cenderung Menurun pada saat Krisis
Ekonomi Asia dan meningkat kembali pada tahun 2000an dan ketika Periode commodity boom (2004 – 2012) diperkirakan menyumbang dalam
peningkatan Gini ratio kini mengalami penurunan dari 2014,
meskipun secara perlahan[7].
Apabila kita melihat ketimpangan yang terjadi dapat dilihat dari beberapa aspek
yang dapat di identifikasi, kelas menengah di Indonesia di akui tumbuh, Namun
kemiskinan sulit untuk diturunkan, apabila melihat data melalui konsemen dari
tahun 2002 sampai 2016 secara komposisi kemiskinan di indonesia mengalami
kenaikan rata-rata 2,2% per tahun dan rentan kenaikan ada di titik 0,1% per
tahun sedangkan apabila dilihat dari aspek konsumen kelas berkembang memiliki
pertumbuhan 2,4% , namun pertumbuhan ini tidak merefresentasikan terhadap
kurangnya kemiskinan namun justru dengan adanya tingat kemiskinan[8].
Maka hal ini lah menjadi salah satu masalah yang sedang dihadapi indonesia di
masa kini dan masa mendatang[9]

. Lalu, cenderung Menurun pada saat Krisis
Ekonomi Asia dan meningkat kembali pada tahun 2000an dan ketika Periode commodity boom (2004 – 2012) diperkirakan menyumbang dalam
peningkatan Gini ratio kini mengalami penurunan dari 2014,
meskipun secara perlahan[7].
Apabila kita melihat ketimpangan yang terjadi dapat dilihat dari beberapa aspek
yang dapat di identifikasi, kelas menengah di Indonesia di akui tumbuh, Namun
kemiskinan sulit untuk diturunkan, apabila melihat data melalui konsemen dari
tahun 2002 sampai 2016 secara komposisi kemiskinan di indonesia mengalami
kenaikan rata-rata 2,2% per tahun dan rentan kenaikan ada di titik 0,1% per
tahun sedangkan apabila dilihat dari aspek konsumen kelas berkembang memiliki
pertumbuhan 2,4% , namun pertumbuhan ini tidak merefresentasikan terhadap
kurangnya kemiskinan namun justru dengan adanya tingat kemiskinan[8].
Maka hal ini lah menjadi salah satu masalah yang sedang dihadapi indonesia di
masa kini dan masa mendatang[9]
Ada beberapa Faktor yang menjadi penyebab
trend dari gini rasio dan juga ketimpangan yang terjadi di indonesia diantaranya
dari segi Pertama,Aset terkait dengan sumber daya manusia dan sumber
daya keuangan yang secara langsung mempengaruhi terhadap adanya guncangan
secara langsung terhadap menurunya pendapatan secara langsung.Kedua,dari
sisi pendapatan dimana sumber daya
manusia disisi lain sebagai buruh dan mendapatkan pendapatan serta sumber daya
keuangan menghasilkan bunga dan sewa atas liquditas manajemen yang secara
langsung akan berpengaruh pula pada sisi guncangan pengurangan pendapatan yang
dihasilkan oleh aset apabila adanya krisis dan akan mengakibatkan PHK dan sisi
aset sangat berpengaruh terhadap sisi pendapatan.Ketiga, pengaruh dari
pendapatan sangat signifikan terhadap pertumbuhan konsumsi dan pertumbuhan
investasi dimana tingkat konsumsi akan bisa menjadi refresentatif dari
pendapatan yang diterima rumah tangga.Keempat, hanya sisi investasi saja
yang bisa kembali ketitik awal ataua titik aset dimana semakin tinggi investasi
maka akan semakin besar tingkat aset yang dimiliki.[10]

Dalam segi proporsi kepemilikan aset yang ada
di indonesia sangat memiliki ketimpangan yang sangat luar biasa Sebagai perbandingan
di Inggris 23,9% aset dikuasai 1 % terkaya, sementara negara paling merata
adalah Hungaria, dimana hanya 17,6% dikuasai oleh 1 % terkaya dan indonesia
sendiri menempati posisi ke 4 dengan penguasaan Aset 49,3% oleh 1% orang
terkaya[11]
sedangkan menurut data indef dari 38 negara yang di survei indonesia menempati
1% pemilik dana secara sskala nasional menguasai 50,3%[12].
Selain itu apabila dilihat dari preesentase jumlah nasabah dengan total aset
Perbankan nasioanal dimana 0,04% dari total nasabah 195,02 juta di indonesia
menguasai total aset sebesar 45,48%[13].
Selain itu, perbandingan share konsumsi per
kapita penduduk tahun 2015 dan 2016 menunjukkan peningkatan pada desil 6,5-15,5
dan penurunan yang cukup besar antara
33,3 ke point 31,4 yang terjadi di antara bulan ke 10 di tahun 2015 dan 2016 .
Hal ini menyumbang penurunan gini rasio
di tahun 2016 menjadi 0,397. Perubahan share konsumsi tidak terjadi pada elemen
masyarakat bawah sehingga upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat harus fokus
pada 40% kelompok berpendapatan terbawah[14].sedangkan
dari Pertumbuhan pengeluaran rata-rata perkotaan lebih tinggi dibandingkan
perdesaan, tetapi pertumbuhan lebih
merata di perdesaan di banding Perkotaan
dimana pertumbuhan rata rata perkotaan
5,61% sedangkan desa 3,54%[15].
Indonesia memiliki 40% individu dengan tingkat kesejahteraan
rendah dimana sebanyak 46,23% dari total
penduduk[16]
sebagai petani atau bidang pertania. Meskipun tongkat kontribusi sektor
pertanian memiliki kontribusi terbesar kedua dalam PDB namun banyak
permasalahan yang dihadapi dalam sektor ini. Selama kurun waktu 2003-2013
tingkat kepemilikan petani atas tanah mengalami penurunan yang sangat
signifikan sebesar 16,32%[17],
berdasarkan penguasaan lahan, 14.62 juta rumah tangga tani di Indonesia hanya
memiliki lahan < 0.5 Ha[18].
Selain dari penguasaan atas lahan maka berpengaruh pada Pekerja dengan keahlian
yang tinggi mendapatkan upah relatif jauh lebih besar dibandingkan pekerja
biasa Upah pekerja formal relatif lebih tinggi dibandingkan upah pekerja di
sektor informal Pekerja sektor formal lebih banyak di pusat-pusat ekonomi
terutama Indonesia Bagian Barat atau daerah dengan kaya hasil bumi dan lebih
banyak para pekerja dengan sebagai buruh tani di indonesia yang menaruh
pendapatanya sehingga tingkat ketimpangan dominan terjadi di sektor pertanian[19],Semakin
banyak para rumah tangga yang bekerja atau sebagai petani maka menurut
statistik akan semakin besar proyeksi ketimpangan yang terjadi di 40%
kebawah.dengan kondisi demikian maka perlua adanya kebijakan makro yang lebih
konservatif dan konstruktif serta terukur dalam mengatasi ketimpangan dan
kemiskinan dengan memperhatikan aspek atau role of model keadaan mayoritas yang
terjadi dikalangan masyarakat di indonesia.
Menurut data yang kami terima atas audiensi
dengan Parlemen di komisi XI salah satu Fraksi mengatakan bahwa Faktor penyebab
ketimpangan Ekonomi dominan terjadi di beberapa daerah tertentu yang terjadi
dikarenakan Perbedaan kandungan SDA masing-masing daerah,perbedaan
demografis,kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa,konsentrasi kegiatan
ekonomi daerah,alokasi investasi dan ego sektoral antar daerah[20].
Pembahasan
Mengenai
pengentasan beberapa masalah yang kompleks diatas memerlukan berbagai komponen
dalam menghadapinya, sebagaimana kesepekatan internattional terkait dengan
program sustainble development Goals yang di proyeksikan akan berhasil di tahun
2030 mendatang, hal ini sangat memerlukan harmonisasi antara Sulthaniyah dan
Ummah dalam pelaksanaanya agar besarnya anggaran yang dikeluarkan negara untuk
program ini dapat dimaksimalkan sebagai mestinya.dalam rancangan pembangunan
jangka panjang yang dilakukan oleh badan perencanaan pembangunan nasional
memiliki enam poin penting dalam pemerataan ekonomi dan pembanguna Pertama,memperbesar
lapangan kerja berkualitas dan investasi padat karya,Kedua,memperluas
akses usaha mikro kecil untuk memperoleh pasar yang luas. Ketiga,
Reforma Agraria dan percepatan sertifikasi tanah penduduk miskin.Keeempat,Memperkuat
basis perekonomian pedesaan Kelima, Pemenuhan pelayanan dasar masyarakat
terbawah dan keenam,mengurangi beban penduduk miskin.
Dengan adanya spesifikasi poin pada pembangunan Nasional
diatas maka kami mengusulkan strategi Optimalisasi Program Sustainable
Development Goals dengan Skematik Harmonisasi Sulthaniyyah Waa Ummah(HITS).Dalam
hal ini penulis menetapkan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berbasis HITS
dan juga harus berdasarkan adanya harmonisasi antara Ummah(Rakyat) dan
Sulthaniyah (Pemerintahan) adapun yang dimaksud dengan HITS adalah
1.
Holistic
Dalam setiap pembangunan yang dilakukan harus bersifat
menyeluruh dan tidak dilakukan secara Parsial hal ini dapat terwujud dalam Pengaturan kebijakan publik. Keunggulan dan
kemajuan suatu kota/kabupaten/negara sangat ditentukan oleh kualitas kebijakan
publik yang dikeluarkan dan yang dilaksanakan[21]
2.
Integrated
Dalam setiap perubahan terutama upaya pembangunan harus
melibatkan beberapa elemen yang menjadi objek pembanngunan,hal ini berkaitan
erat dengan integrasi sosial baik antara pemerintah,parlemen,civil
society,bussines man,philantropy dan lainya sangat diperlukan untuk berperan
aktif dalam usaha perubahan bersama[22]
3.
Tematik
Dalam melakukan arah pembangunan hendaknya didasarkan
pada kondisi dan keadaan yang berada didaerah tersebut atau sesuai dengan ciri
khas di daerah tertentu maka inilah yang di sebut dengan tematik
4.
System
Yang terpenting dalam melakukan pembangunan
berkelanjutan adalah tersistemnya setiap rancangan dan perencanaan pembangunan
atas daerah tertentu atau bidang yang dilakukan dalam hal ini terkait dengan
adanya penghidupan kembali atas tanah yang tidak produktif hendaknya dilakukan
secara struktur agar menjadi kekuatan hukum, di indonesia sendiri dalam Undang
undang reformasi agraria telah disebutkan terkait dengan tanah yang 3 tahun
tidak dipergunakan akan diambil oleh negara. Namun, yang menjadi catatan
terkait hukum adalah masih bersifat umum nya maksud dalam undang-undang
sehingga tidak diperjelaskan kriteria dan prasyarat mengapa diambil oleh
negara, lalu di era presiden kali ini di terbitkan Perpres No 4 Tahun 2015 terkait
pengambilan alih atas tanah yang tidak produktif oleh pemerintah. Yang menjadi
pertanyaan adalah seberapa kuat posisi perpres dihadapan hukum di Indonesia?
Menurut data dari Smeru Research Institute bahwa 95% tanah yang di gugat oleh
negara kalah dipengadilan sehingga Undang-undang harus secara eksplisit mengatur
tentang hal demikian.[23]
Dalam praktek pembangunan di Indonesia
selayaknya Harus melibatkan beberapa komponen dalam pembangunanya agar
terciptanya sinergitas dengan beberapa peran yang ada.
Komponen yang terdapat didalam gambar bermakna
bahwa peran pemerintah dalam hal ini parlemen sebagai regulasi dan juga sdgs
program sebagai pemerintah sangat berpengaruh pada tingkat kepekaan social
terhadap program,bantuan para pelaku usaha dalam hal ini rumah tangga 40%
terendah di ikut sertakan, peran philantropy dalam akselerasi pembangunan
apabila tingkat anggaran yang dilakukan dalam program atas pemerintah terbatas
maka charity merupakan salah satu instrument alternatif bahkan bisa menjadi hal
utama dalam melakukan pembangunan yang berkelanjutan[24] Sebagai gambaran, sumbangan sosial perusahaan
pada tahun 2015 mencapai Rp 12,45 triliun. Sementara potensi Zakat pada tahun
yang sama mencapai Rp 213 triliun, sedangkan yang tergalang baru 1,2 persen
atau Rp 3 triliun. Tak heran jika masyarakat Indonesia dinobatkan sebagai
masyarakat yang dermawan nomor 2 di dunia.[25]

Maka sudah sepatutnya kebijakan terkait dengan
program pembangunan yang berkelanjutan khusunya sdgs diarahkan untuk sepenuhnya
menjadi komponen pendukung dalam melaksanakan atau mengimplementasikan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat indonesia[26]
berkaitan dengan hal ini penulis mengkrtisi terhadap kebijakan yang dilakukan
pemerintah terkait dengan Redistribusi lahan dengan target dibagikan sebesar 9
juta lahan yang siap garap dan redistribusi lahan terlantar sebesar 12 juta
hektar. Apabila hal ini tercapai dengan
baik maka seharusnya tidak ada lagi tingkat kepemilikan lahan atas pertanian
semakin menurun sampai ke titik 0,3-0,5 ha lahan berdasarkan sensusnas
pertanian 2013[27]
adanya penurunan jumlah penguasaan lahan secara otomatis mengurangi rumah
tangga yang berpropesi sebagai petani dan secara otomatis pula mengurangi sisi
produksi barang dari segi pertanian.
Belajar dari skematik Velda malaysia tentang upaya
redistribusi ahan dengan adil yang diklaim dapat meningkatkan pertumbuhan di
masyarakat bawah dan dapat menurunkan tingkat kemiskinan serta
ketimpangan.Indonesia sendiri memiliki Tujuan sebagai mana yang digambarkan
dalam gambar dibawah ini, dalm hal ini pilar utama equity bagi masyarakat
adalah terkait dengan kepemilikan atas lahan dan dikikuti dengan masalah
lainya.
Dengan skematik Holistic,Integrated,System dan
tematik sebagaimana yang telah di jelaskan diatas maka menjadi sangat baik
apabila diikuti dengan skema yang baik pula yang dapat merefresentasikan
pembangunan berkelanjutan yang baik.
Dalam skema Al- Ihya A- Mawat ‘’barang
siapa menghidupkan suatu lahan mati maka lahan itu untuknya’’(At Tarmidzi dari
Jabir Ibnu Abdillah ) hal senada demikian diucapkan pula dalam hadist
Ahmad, Abu daud, Bukhory dan Ibnu Muhdarisin.
Fuqaha sepakat bahwa lahan yang tidak dimiliki
oleh siapapun (dalam konteks kekinian oleh negara) bisa dimiliki dengan mebuka
kebermanfaatan atasnya[28].dalam
hal ini mencakup berbagai syarat dari para ulama seperti hambali, malikiyah,dan
syafiyah yang memiliki tingkat kesamaan adalah pada continuitas atas
pemanfaatan lahan yang digunakan atau kita kenal sustainble[29]
skematik Harmonisasi Sulthaniyah Wa Ummah sangat di perlukan dalam konteks
pembangunan berkelanjutan.
Selain oleh Pemerintah dalam konsep diatas
terdapat alternatif lain dengan
melakukan penggantian atas Sulthaniyah oleh Wakaf atau Charity hal ini
mendukung kepada rakyat yang derma untuk melakukan kegiatan pembangunan
berkelanjutan dengan peduli antar sesama serya meningkatkan soliditas umat
untuk lebih maju. Alternatif terakhir adalah dengan adanya Full bantuan
pemerintah yakni dengan menjadikan lahan yang dimiliki oleh pemerintah sebagai
aset Umat atau aset Wakaf maka dengan demikian akan mendorong untuk melakukan
pembangunan lebih maju. Alasan penulis dalam mengajukan skematik pemeritah
sebagai yang pertama karena didasari hanya pemerintah yang dapat melakukan
kegiatan untuk rakyat secara komprehensif karena merupakan amanah undang-undang
serta kewajiban untuk melakukanya sedangkan ummah merupakan tindakan optional
yang bergantung pada tingkat ketaatan kepada Tuhan nya atau kepercayaan yang
dianutnya.
Maka dengan skematik diatas penulis meyakini
program susstainble development Goals yang diproyeksikan sukses di 2030 akan
terlaksana lebih cepat apabila 40% rumah tangga terendah diprioritaskan dalam
sisi produktif termasuk dalam penggarapan Tanah yang akan diredistribusikan.
[1]Student Sebi University College Of Islamic Economic
[4] Akita et al, 2011, van der Eng,Total Factor Productivity and Economic Growth In Indonesia.2009 and Cameron, 2000
[5] Frankema & Marks, Growth With Equity Under Soeharto?A Theil Analysis Of Income Distribution
In Indonesia 1960-2001,2009; Leigh & van der Eng,Top Incomes In Indonesia1920-2004,2010;
[6] Akita & Miyata,analyzed the distribution of per capita
household expenditure in Indonesia for the Year 1996- 1999,2001, 2008; Sumarto and Indunil de Silva,Poverty Growth Inquality
Triangle:The Case Of Indonesia,2013; Yusuf and Rum,Twenty Years Of Expenditure inequality in indonesia
1993-2013, 2013
[10] Laporan bank
dunia diadaptasi dari Bussolo dan Lopes-calva (2014) Share Prosperity :
Paving The Way And Europe and Central Asia
[19] Melanie Morten, Stanford University, 2014
Dalam Perencanaan Wilaya ;Guru Besar Ekonomi, Ketua Program Doktor (S3) Perencanaan Wilayah,
Sekolah Pascasarjana USU
Sekolah Pascasarjana USU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar